Kapankah Waktu Telinga Bayi Ditindik?

Menindik telinga bayi perempuan banyak dilakukan orangtua. Boleh-boleh saja melakukan tindik telinga bayi jika memang si kecil tidak punya masalah medis yang bisa menjadi faktor risiko. Kapan sebaiknya telinga bayi perempuan ditindik?

Melakukan tindik telinga dibutuhkan peralatan yang tepat dan orang yang sudah terlatih menindik telinga bayi. Karena jika peralatan tidak steril bisa menimbulkan risiko infeksi, sedangkan jika yang melakukan belum terlatih berisiko mengeluarkan darah yang terlau banyak.

Baca selengkapnya

Infeksi Telinga Kronis Buat Anak Lebih Gemuk

Infeksi di telinga anak tidak hanya mempengaruhi pendengarannya, tapi juga kemampuannya mengecap rasa. Karena lidahnya jadi kurang sensitif terhadap rasa manis, anak jadi lebih banyak makan gula dan lebih rentan mengalami kegemukan.

Hubungan antara infeksi telinga kronis dengan risiko kegemukan pada anak memang bukan kali ini saja diungkap oleh para peneliti. Namun dalam berbagai penelitian sebelumnya, belum pernah disimpulkan bagaimana keduanya bisa saling mempengaruhi.

Dr Il Ho Shin dari Kyu Hee University di Seoul, Korea Selatan baru-baru ini mengungkap bahwa infeksi telinga kronis mempengaruhi kemampuan otak dalam mengolah pengecapan rasa oleh lidah. Sensitivitasnya menurun terutama untuk mengecap rasa manis.

Baca selengkapnya

Separuh Anak Indonesia Tumbuh dgn Sanitasi yg Buruk

Sanitasi adalah kebutuhan dasar manusia yang berkaitan erat dengan kesehatan. Sayangnya, hampir separuh anak Indonesia terancam tumbuh kembangnya akibat sanitasi yang buruk.

Laporan Bappenas mengenai Pencapaian MDG’s 2010 menyebutkan bahwa proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi yang layak pada tahun 2009 baru mencapai 51,19 persen.

“Dengan jumlah tersebut, maka dapat kita perkirakan hampir 50 persen anak-anak Indonesia tumbuh dalam rumah tangga yang belum memiliki akses terhadap sanitasi layak. Berarti hampir separuh anak Indonesia terancam tumbuh kembangnya akibat sanitasi buruk,” jelas Budi Yuwono, Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian PU saat membuka acara Jambore Sanitasi 2011 di Hotel Mercure Ancol Jakarta, Senin (20/6/2011).
Baca selengkapnya

Virus Penyebab Tuli Pada Bayi Sering Tidak Terdeteksi

Infeksi virus tertentu pada masa kehamilan bisa memicu kerusakan organ termasuk telinga, sehingga bayi jadi tuli saat dilahirkan. Sebenarnya kerusakan ini bisa dicegah, namun sayangnya virusnya sering tidak terdeteksi pada ibu hamil.

Virus penyebab
tuli yang jarang terdeteksi ini adalah Cytomegalovirus (CMV). Pada ibu hamil, virus ini sulit dideteksi karena selain teknologi untuk mendeteksinya masih terbatas, infeksi virus ini kadang-kadang juga tidak menimbulkan gejala.

Pada orang sehat, infeksi CMV hanya memicu gejala ringan mirip flu, namun pada ibu hamil bisa ditularkan ke anaknya dan memicu gangguan pertumbuhan pada sistem saraf di otak. Akibatnya antara lain tuli, mata rusak serta kecerdasan tidak berkembang.

Baca selengkapnya

Daftar Lengkap Susu Formula Bebas Bakteri

Setelah beberapa hari yang lalu kita dihebohkan dengan pernyataan yang menyatakan adanya Susu Formula Mengandung Bakteri, kali ini Badan Pengawas Obat dan Makanan mengumumkan beberapa Susu Formula Bebas Bakteri.

Karena pada saat jumpa pers dalam mengungkap Daftar Lengkap Susu Formula Mengandung Bakteri tidak menuaikan hasil dan saat ini masih banyak ibu-ibu yang mulai cemas dengan adanya susu formula mengandung bakteri. Dari pengambilan 96 sampel produk susu formula dari berbagai merek untuk menguji kemungkinan adanya bakteri Enterobacter Sakazaki, BPOM tidak menemukan adanya bakteri Enterobacter Sakazaki.

Dan berikut ini merupakan Daftar Lengkap Susu Formula Bebas Bakteri atau merek susu dan makanan bayi yang diuji BPOM:

1. Frisian Flag
2. Lactona
3. Lactogen
4. SGM
5. Anmum Infacare
6. Sun Baby Tomat Wortel
7. SUN Beras Merah
8. Indomilk
9. Chilmil
10. Morinaga BMT Platinum
11. Enfamil
12. Dancow 1 rasa madu
13. Dancow full cream
14. Dancow Nutri Gold
15. Cerelac Nestle
16. Bimbi Susu Formula
17. Nutrilon Hypo Allegenic
18. Anlene
19. Vitalac
20. S-26
21. Neosure
22. Pre Nan
23. Anlene Actifit Vanilia
24. Bebelac susu formula
25. Nutrilion I
26. Nan Nestle HA 1
27. Nutricia Bebelac 1

Bayi lebih banyak butuh air dibanding orang dewasa

bayi minum airAir merupakan salah satu kebutuhan setiap makhluk hidup. Tapi ternyata kebutuhan air untuk bayi sehat jumlahnya 5 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa.

“Kebutuhan air bayi itu 10-15 persen dari berat badannya, sedangkan orang dewasa kebutuhannya 2-4 persen dari berat badannya. Berarti bayi sehat membutuhkan air 5 kali lipat lebih banyak dari orang dewasa,” ujar dr Sudung O Pardede, SpA(K) dalam acara konferensi pers Hydration and Health di Hotel Gran Sahid Jaya, Jumat (18/3/2011).

dr Sudung mengungkapkan jumlah kebutuhan air bayi yang paling banyak berdasarkan usianya adalah neonatus (0-28 hari), lalu diikuti oleh bayi (0-12 bulan), anak-anak (1-18 tahun) dan orang dewasa. Sedangkan jika bayi dilahirkan dengan berat badan rendah (BBLR) maka kebutuhan airnya akan meningkat lagi.

“Kecepatan sikus air pada bayi sangat tinggi, karena itu bayi dan anak cenderung rawan terhadap penyakit yang menimbulkan dehidrasi,” ujar dokter yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Umum PP-IDAI (Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia).

Perbedaan antara bayi dan anak dengan orang dewasa dalam hal cairan tubuh mencakup perbedaan komposisi, metabolisme dan derajat kematangan sistem pengaturan air serta elektrolitnya.

dr Sudung menuturkan secara klinik kebutuhan air pada bayi dan anak biasanya berdasarkan berat badan, salah satunya adalah menggunakan rumus Darrow yaitu:

  1. Anak dengan berat badan kurang dari 10 kg, maka kebutuhan airnya adalah 100 ml/kg berat badannya. Misalnya anak dengan berat badan 8 kg, maka kebutuhannya adalah 8 x 100 ml = 800 ml.
  2. Anak dengan berat badan antara 10-20 kg, maka kebutuhan airnya adalah 1.000 ml + 50 ml setiap kenaikan berat badan diatas 10 kg. Misalnya anak dengan berat badan 15 kg, maka kebutuhannya adalah 1.000 ml + (50 ml x 5) = 1.250 ml.
  3. Anak dengan berat badan lebih dari 20, maka kebutuhan airnya adalah 1.500 ml + 20 ml setiap kenaikan berat badan di atas 20 kg. Misalnya anak dengan berat badan 30 kg, maka kebutuhan airnya 1.500 ml + (20 ml x 10) = 1.700 ml.

Perhitungan kebutuhan air pada anak juga bisa berdasarkan luas permukaan tubuh dan jumlah cairan yang dikeluarkan oleh tubuh.

Asupan air yang cukup untuk anak dapat membantu meringankan gejala konstipasi, diare dan demam. Untuk bayi atau anak yang demam, maka setiap kenaikan suhu tubuh 1 derajat celsius maka asupan air ditambah sebanyak 12 persen, sedangkan pada neonatus yang menjalani terapi sinar diperlukan penambahan air sebesar 20 ml/kg berat badan setiap harinya.

“Jika bayi atau anak mengalami dehidrasi maka gejala yang muncul adalah mudah rewel, air mata berkurang, bibir kering, mata cekung, minum seperti orang kehausan dan jika kulit ditekan maka butuh waktu lebih lama untuk kembali ke bentuk semula,” imbuhnya.

Meski demikian beberapa bayi dan anak kadang susah jika disuruh minum air putih dan lebih memilih minuman lain yang berwarna atau memiliki rasa manis.

Untuk itu Dr dr Saptawati Bardosono, MSc memberikan tips agar anak mau minum air putih yaitu:

  1. Orangtua bisa memberikan air putih di dalam gelas yang dicampur dengan es batu.
  2. Orangtua juga bisa memberikan tambahan potongan-potongan buah dengan bentuk kecil yang lucu.
  3. Memberikan air putih di dalam botol dengan sedotan yang berwarna warni atau bentuk yang lucu.

Makna di Balik Perilaku si Bayi

Beberapa orangtua mungkin penasaran dengan apa yang terjadi di balik perilaku si kecil. Setidaknya ada 6 fakta mengenai perilaku bayi yang perlu diketahui para orangtua karena menyangkut pertumbuhan otaknya.

Keenam fakta seputar otak bayi yang sebaiknya diketahui setiap orangtua, seperti :

1. Respons yang lambat dari orangtua memberikan kekusutan di otak bayi
Otak bayi menggunakan tanggapan atau respons dari pengasuh maupun orangtua untuk membantunya berkembang. Cepatlah bertindak jika bayi menangis atau gelisah agar otaknya tidak kusut. Bayi akan memiliki periode puncak menangis sekitar usia 1-2 bulan.

Studi membuktikan otak bayi yang dibiarkan menangis untuk jangka waktu lama, berisiko mengalami kerusakan dalam perkembangannya yang dapat mengurangi kapasitasnya untuk belajar.

“Seorang bayi yang sudah terlalu lama menangis pada akhirnya akan berhenti. Hal ini bukan karena ia telah belajar untuk tidur sendirian, tapi karena ia kelelahan dan telah putus asa untuk mendapatkan bantuan,” ungkap Penelope Leach, seorang pakar kesehatan anak.

2. Wajah yang lucu dan suara merupakan hal penting bagi bayi

Ketika bayi meniru wajah seseorang maka ia juga memicu emosi di dalam dirinya. Hal ini membantu membangun pemahaman dasar mengenai komunikasi emosional. Sedangkan berbicara dengan si kecil terutama menggunakan struktur yang lambat dan menekankan komponen-komponen penting dari suatu bahasa akan membantunya memahami kata-kata.

3. Otak bayi berkembang sangat cepat
Setelah lahir otak manusia tumbuh dengan pesat dan bahkan telah mencapai ukuran 60 persen dari ukuran otak dewasa saat ia mencapai usia 1 tahun. Memasuki usia taman kanan-kanak otaknya telah mencapai ukuran penuh meski belum selesai berkembang hingga ia berusia 20-an tahun. Umumnya otak tidak pernah berhenti berubah untuk menjadi lebih baik atau justru lebih buruk.

4. Mengoceh merupakan sinyal bayi belajar
Bayi biasanya mengeluarkan suara untuk menyampaikan ketertarikannya pada sesuatu. Secara khusus mengoceh merupakan sinyal yang diberikan bayi bahwa ia siap untuk belajar. Karenanya salah satu hal yang bisa membuat bayi belajar adalah mengajaknya berbicara, menekankan dialog yang baik dengan anak serta orangtua merespons ucapan bayi dengan vokalisasi berjeda.

5. Bayi membutuhkan setidaknya 3 orang dewasa berbeda
Sebuah studi yang dilaporkan dalam jurnal Monographs of the Society for Research in Child Development tahun 1995 menunjukkan bahwa bayi membutuhkan setidaknya 3 orang dewasa yang mengajaknya berinteraksi. Hal ini membuktikan bahwa bayi membutuhkan orang dewasa lainnya selain orangtua, orang dewasa ini bisa kakek, nenek, pengasuh, teman atau anggota keluarga lainnya.

Kondisi ini akan membantu bayi belajar membaca ekspresi wajah yang berbeda-beda serta memperluas kemampuannya untuk mengerti perspektif orang lain. Umumnya bayi mulai bisa mengartikan emosi orang dewasa saat berusia 7 bulan.

6. Isap Jempol
Kebiasaan mengisap jempol dilakukan hampir 80 persen balita. Bayi yang mengisap jempol biasanya sebagai upaya menenangkan diri. Mengisap jempol merupakan refleks normal yang terjadi pada balita untuk menenangkan dirinya saat mengalami stres, yang pada intinya bayi tersebut mencari kenyaman dan rasa aman.

Kemampuan Bicara Anak Sesuai Usia

Orangtua terkadang bingung karena pada usia tertentu anaknya belum bisa berbicara. Hal ini membuat orangtua bertanya apakah kondisi tersebut masih terbilang normal atau justru menandakan adanya gangguan.

Ike R Sugianto, Psi, seorang psikolog anak menuturkan untuk mengetahui apakah anak mengalami gangguan bicara atau tidak perlu diperhatikan tahapan dari perkembangan bicara anak. Berikut ini tahapan perkembangan bicara dan bahasa yang dialami anak yaitu:

Usia 0-6 bulan
Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Cooing (suara yang tidak beraturan)
  2. Menoleh ke sumber bunyi atau berhenti menangis kalau mendengar suara
  3. Adanya kontak mata untuk mengikuti gerakan benda

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Berbicara pada bayi dengan penuh atensi
  2. Menggunakan intonasi yang menarik
  3. Berkomunikasi misalnya bermain cilukba atau bernyanyi saat melakukan aktivitas bersama seperti pada waktu makan, mandi atau ganti popok.

Usia 6-12 bulan
Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Babbling atau pengulangan suku kata yang sama seperti mamama atau bababa
  2. Meningkatnya pemahaman atas kegiatan sehari-hari
  3. Ada echolalia (membeo) mulai dari 3-5 kata

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Memberikan respons pada ocehan yang dikeluarkan si kecil
  2. Menggunakan kalimat pendek dengan tempo lambat dan 1 bahasa

Usia 12 bulan
Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Mengenali nama sendiri
  2. Memahami instruksi sederhana seperti kiss bye atau dagh-dagh
  3. Kata pertama sebanyak 5-6 kata

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Memberikan tanda pada setiap tindakan

Usia 18 bulan
Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Memahami 10-20 kata termasuk nama-nama orang
  2. Menyebutkan nama obyek dari foto atau gambar
  3. Mulai menggunakan kalimat yang terdiri dari 2 kata
  4. Mulai mengungkapkan keinginannya seperti ‘minta’ atau ‘permen’
  5. Mampu bertanya dengan kalimat sederhana seperti ‘mana bola?’
  6. Menggunakan bahasa non-verbal seperti menunjuk, bersenandung atau bernyanyi

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Memberikan lagu sederhana atau kata yang berulang-ulang
  2. Menjelaskan apa yang sedang ditonton si kecil
  3. Memberikan pujian

Usia 24 bulan
Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Memahami pertanyaan dan perintah sederhana
  2. Memahami instruksi yang lebih luas
  3. Lebih banyak menggunakan penggabungan dua kata dan menggunakan kalimat yang lebih panjang (3 kata)
  4. Anak menunjuk dirinya sendiri dengan nama
  5. Mulai menggunakan kata negatif seperti ‘tidak pergi’ atau ‘jangan’
  6. Memahami minimal 50 kata
  7. Bertahan mengikuti aktivitas selama 6-7 menit

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Memperluas penggunaan kata baru
  2. Memperjelas arti suatu kata dengan menggunakan bahasa tubuh dan intonasi
  3. Menggunakan percakapan sederhana
  4. Merangsang anak dengan pertanyaan sederhana lalu tunggu respons dari anak selama 10 detik
  5. Membaca buku dengan kalimat yang berulang-ulang dan sederhana
  6. Memberikan permainan dengan istruksi seperti ‘Pegang hidung’ atau anggota tubuh lainnya

Usia 30 bulan
Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Memahami 400-800 kosa kata
  2. Mampu menyebutkan nama depan
  3. Bisa menggabungkan antara kata kerja dan kata benda
  4. Mampu menyebut 7 anggota tubuh
  5. Mulai bisa membedakan barang berdasarkan bagian atau fungsinya seperti ‘mana yang punya roda’ atau ‘yang mana yang bisa dipakai untuk makan’
  6. Bisa memahami konsep besar dan kecil

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Membaca cerita dan menjawab pertanyaan sederhana

Usia 3 tahun
Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Paling sedikit mampu menyebutkan 1 warna
  2. Sering berbicara waktu bermain atau saat sedang sendiri
  3. Bisa menceritakan sebuah cerita sederhana
  4. Bisa menggunakan 3-4 kalimat
  5. Memahami kalimat seperti ‘Coba tunjuk yang mana bintang’
  6. Memahami 900-1.500 kosa kata
  7. Menggunakan kata tanya seperti mengapa dan apa

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Mulai menggunakan kalimat yang terdiri dari 3-4 kata
  2. Membicarakan kegiatan sehari-hari
  3. Bermain dengan teman sebayanya

Usia 4 tahun
Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Mamahami 1.500-2.000 kosa kata
  2. Memahami kata jika, karena atau siapa
  3. Menggunakan 4-5 kata dalam satu kalimat
  4. Mulai menggunakan struktur bahasa yang rapi
  5. Memberikan artikulasi yang lebih jelas
  6. Mampu mengikuti perintah 2-3 langkah

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Mengunjungi kebun binatang atau sebuah pertunjukkan
  2. Berbicara dengan kalimat atau membacakan cerita yang lebih panjang

Usia 5 Tahun
Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Memahami 2.500-2.800 kosa kata
  2. Mendefinisikan obyek berdasarkan fungsinya
  3. Terkadang masih bingung antara kemarin, dulu atau besok
  4. Mampu bertukar informasi, bisa menjawab telepon dan menghubungkan cerita
  5. Menggunakan 5-6 kata dalam satu kalimat

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Mendengarkan apa yang diucapkan anak
  2. Memberi kesempatan bagi anak untuk mengutarakan perasaannya

Jika anak belum mencapai tahapan tersebut ada kemungkinan anak mengalami gangguan bicara. Namun ada beberapa faktor yang terkait dengan gangguan perkembangan bicara dan bahasa pada anak seperti:

  1. Gangguan pendengaran
  2. Gangguan pemrosesan sensorik
  3. Kelainan organ bicara
  4. Bingung bahasa (bilingual)
  5. Selective autism
  6. Perkembangan otak yang kurang optimal
  7. Indikasi adanya gangguan yang lebih serius seperti keterbelakangan mental atau gangguan spektrum autis.

Untuk mengetahui apakah ada gangguan tersebut atau tidak, orangtua bisa melakukan beberapa pemeriksaan seperti ke dokter THT dan pemeriksaan tumbuh kembang dengan ahli terapis wicara, psikolog, psikiater, dokter anak.

“Jika memang diketahui adanya gangguan, maka pemilihan terapi yang diberikan sangat tergantung dengan faktor terkait tersebut dan juga kondisi anak,” ujar Ike yang juga pendiri Potentia Center dalam rilis seminar Identifikasi Gangguan Perkembangan yang diterima detikHealth, Jumat (1/4/2011).

Meski demikian ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orangtua dan guru yaitu:

  1. Memperbanyak waktu untuk bermain bersama
  2. Mengikuti minat dan masuk ke dalam dunia anak, baru secara perlahan mengarahkan anak
  3. Menggunakan 1 bahasa terlebih dahulu sehingga anak tidak bingung
  4. Menggunakan tempo bicara yang sedang
  5. Menggunakan kalimat pendek seperti 1-2 kata
  6. Memperbanyak ekspresi yang seru seperti ‘Wow ! Oh-oo’
  7. Meminta respons timbal balik dari anak mulai dari hal yang bisa dilakukannya seperti tos, cium atau mengangguk
  8. Memberikan jeda 5 detik antar kalimat pengulang
  9. Menggunakan alat bantu visual

Yang Harus Diperhatikan Sebelum Hamil

Kehamilan seharusnya sudah direncanakan dan dipersiapkan dengan baik oleh pasangan. Untuk itu ketahui hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan sebelum hamil.

Jika seseorang sudah berpikir tentang kehamilan, maka ia harus mengetahui terlebih dahulu apakah tubuhnya telah siap untuk hamil. Beberapa hal diketahui bisa mempengaruhi seperti kondisi kesehatan, imunisasi yang diterima dan kontrasepsi yang digunakan.

Untuk membantu memastikannya cobalah menjawab beberapa pertanyaan berikut :

Kontrasepsi apa yang digunakan?
Jika menggunakan pil KB maka dokter mungkin akan merekomendasikan untuk menghentikan konsumsi pil sementara waktu sebelum mencoba untuk hamil. Hal ini akan memungkinkan sistem reproduksi kembali normal dan memudahkan dokter menentukan kapan waktu ovulasi (masa subur). Kesuburan mungkin akan kembali normal setelah 2 minggu berhenti konsumsi pil KB.

Sedangkan jika menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang, maka kemungkinan diperlukan waktu yang lebih lama untuk mendapatkan kesuburan kembali.

Vaksinasi apa yang sudah diterima?
Infeksi seperti cacar (varicella), campak Jerman (rubella) dan hepatitis B bisa berbahaya bagi bayi yang belum dilahirkan. Untuk itu ketahui imunisasi apa yang sudah dimiliki. Jika infeksi tersebut belum mendapat vaksinasi, sebaiknya lakukan vaksin setidaknya satu bulan sebelum mencoba untuk hamil.

Apakah memiliki kondisi medis kronis tertentu?
Jika memiliki kondisi medis yang kronis seperti diabetes, asma atau tekanan darah tinggi, maka pastikan bahwa kondisi ini sudah terkontrol dengan baik sebelum hamil. Selain itu dokter akan menyesuaikan perawatan dan obat yang diberikan sebelum dan selama hamil.

Apakah ada obat atau suplemen yang dikonsumsi?
Sebaiknya pasangan memberitahu dokter mengenai segala hal termasuk obat, herbal atau suplemen yang dikonsumsi, sehingga dokter bisa merekomendasikan perubahan dosis atau menghentikan penggunaan sebelum hamil.

Selain itu perempuan bisa mengonsumsi vitamin prenatal sebelum hamil untuk membantu mencgah cacat tabung saraf, karena seseorang baru mengetahui dirinya hamil setelah beberapa minggu kehamilan. Padahal otak dan sumsum tulang belakang mulai berkembang selama bulan pertama kehamilan.

Apakah berisiko terkena infeksi menular seksual?
Infeksi menular seksual bisa meningkatkan risiko infertilitas, kehamilan ektopik (hamil di luar rahim) dan komplikasi kehamilan lainnya. Jika memang berisiko terkena infeksi menular seksual, maka lakukan skrining (pemeriksaan) serta melakukan pengobatan.

Berapa usia yang dimiliki?
Beberapa masalah yang berhubungan dengan kehamilan seperti diabetes gestational (diabetes saat hamil), masalah kesuburan, keguguran dan kelainan kromosom akan meningkat pada ibu hamil yang sudah tua atau berusia di atas 35 tahun. Untuk itu rencanakan kehamilan dengan baik dan rajin berkonsultasi saat hamil.

Apakah pernah hamil sebelumnya?
Dokter akan menanyakan tentang kehamilan sebelumnya, karena itu pastikan untuk memberitahu segala hal terutama tentang komplikasi yang terjadi seperti tekanan darah tinggi, persalinan prematur atau cacat lahir. Jika kehamilan sebelumnya melahirkan anak yang cacat tabung saraf maka dokter akan merekomendasikan dosis asam folat yang lebih tinggi sebulan sebelum pembuahan.

Bagaimana gaya hidup yang dijalani?
Melakukan gaya hidup sehat selama hamil merupakan hal yang sangat penting. Untuk itu dokter akan menanyakan tentang gaya hidup yang dijalani oleh pasangan termasuk pola makan, aktivitas fisik, kondisi mental seperti stres dan gaya hidup dari suami. Serta dokter akan menanyakan tentang riwayat medis keluarga dari kedua belah pihak yang bisa mempengaruhi kehamilan dan bayi.

Makanan yang sebaiknya tidak diberikan pada bayi berdasarkan usianya

Makanan yang Harus Dihindari Bayi Berdasarkan Usia

Beberapa orangtua kadang tidak sabar ingin cepat-cepat memberikan makanan untuk bayinya. Tapi ingat, ada beberapa makanan yang sebaiknya tidak diberikan pada bayi berdasarkan usianya.

Saat bayi tumbuh dan bertambah usianya maka orangtua mulai ingin memperkenalkan beberapa variasi makanan untuknya. Tapi tidak semua makanan aman bagi anak, beberapa diantaranya memiliki bahaya tersedak dan yang lainnya tidak baik dikonsumsi karena bayi belum memiliki sistem pencernaan yang sempurna.

Beberapa makanan sebaiknya dihindari oleh bayi berdasarkan usianya,

Usia 4-6 bulan
Orangtua sebaiknya tidak memberikan makanan jenis apapun pada bayi sekalipun makanan tersebut lembut atau berupa bubur, karena semua nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi sudah tercukupi melalui ASI sampai 6 bulan pertama.

Usia 6-12 bulan
Meskipun bayi sudah boleh menerima makanan selain susu, tapi beberapa jenis makanan sebaiknya dihindari oleh bayi yaitu:

  1. Madu, ada kemungkinan madu mengandung Clostridium botulinum yang bisa menyebabkan botulisme. Pada orang dewasa saluran ususnya bisa mencegah pertumbuhan spora ini, tapi pada bayi spora ini bisa tumbuh dan menghasilkan racun yang mengancam jiwa.
  2. Selai kacang, selai kacang umumnya memiliki tekstur yang lengket sehingga membuat bayi sulit untuk menelan.
  3. Susu sapi, umumnya bayi tidak bisa mencerna protein dalam susu sapi untuk 1 tahun pertama. Selain itu ia juga tidak membutuhkan semua nutrisi yang terkandung di dalam susu, dan jumlah tertentu dari mineral bisa merusak ginjalnya.
  4. Makanan dengan potongan besar, sayuran seperti wortel, seledri atau tomat, daging atau keju sebaiknya dipotong dadu kecil, diparut atau direbus lalu dipotong untuk mencegah makanan tersebut terjebak di tenggorokan. Sedangkan untuk buah sebaiknya diberikan dalam bentuk jus.
  5. Makanan keras, jenis makanan seperti kacang-kacangan, popcorn, permen keras, kismis atau buah kering lainnya berpotensi tersedak.

Usia 12-24 bulan

  1. Susu rendah lemak, sebagian besar anak balita muda membutuhkan lemak dan kalori untuk pertumbuhan dan perkembangan, karena itu hindari susu yang rendah lemak untuk anak dibawah usia 2 tahun.
  2. Hindari pula makanan yang berpotensi menyebabkan tersedak.

Usia 24-36 bulan
Meskipun anak sudah lebih banyak mengonsumsi variasi makanan, tapi masih ada kemungkinan ia tersedak oleh makanan. Untuk itu tetap hindari makanan yang keras, berpotongan besar serta permen karet karena umumnya anak belum mengerti cara mengonsumsi yang benar. Selain itu hindari anak makan sambil berjalan, menonton tv atau melakukan hal lain yang bisa mengalihkan perhatiannya dari makanan.

Makanan yang dikonsumsi anak memiliki fungsi penting sebagai nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangannya, tapi orangtua juga harus mempertimbangan sistem pencernaan yang dimiliki oleh anak apakah sudah sempurna atau belum.